Bank Negara Indonesia (BNI): Membangun Ketangkasan dengan Transformasi Kultur, Bisnis, dan TI

Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI

Sebagai entitas BUMN yang bergerak di bidang perbankan, apalagi menyandang status sebagai perusahaan terbuka, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. merasa memiliki kewajiban yang tinggi untuk melaksanakan pengelolaan operasi dan bisnis dengan kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Kepatuhan ini diterapkan dalam wujud pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG). 

Dalam menerapkan dan menegakkan prinsip-prinsip GCG, BNI mengacu pada lima prinsip dasar, yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran. Juga meliputi tiga aspek governance: Governance Structure, Governance Process, dan Governance Outcome.

Seiring dengan praktik GCG yang sudah dijalankan secara melekat dalam praktik bisnisnya, sejak 2021 BNI menjalankan program transformasi. Hal ini dilakukan untuk menjawab beberapa tantangan dan perubahan di industri perbankan. Secara lebih riil, transformasi ini dilakukan untuk meningkatkan ketangkasan dalam berbisnis (business agility) dan produktivitas.

Memang, ada sejumlah tantangan, terutama sebagai dampak dari pandemi Covid-19, yang telah dipetakan oleh pihak manajemen BNI, terkait dengan segmen bisnisnya di sektor konsumer, UKM, dan korporat.

Di sektor konsumer, tantangannya berupa meningkatnya permintaan terhadap produk protection, tabungan, investasi, serta peningkatan cashless transaction. Di sisi lain, ada penurunan cukup besar dari sisi KPR dan kredit otomotif.

Di sektor UKM, tantangannya adalah pergeseran yang cepat ke saluran digital, dengan pemanfaatan analitik data. Juga ada kebutuhan yang lebih tinggi untuk modal kerja jangka pendek dan restrukturisasi. 

Di segmen korporat, ada perubahan profil risiko sebagai dampak Covid-19 dan pergeseran trade flow. Ada pula peningkatan kebutuhan likuiditas dan transparansi arus kas serta adanya transaksi atau akuisisi yang membuka peluang ke depan. 

Menurut Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, kondisi itulah yang mendorong pihaknya melakukan transformasi. “Dalam rangka mempersiapkan dan mengembangkan bisnis di masa mendatang, kami melakukan transformasi culture dan transformasi bisnis,” katanya.

Menurut Royke, transformasi kultur dijalankan sejak awal 2022, dan prosesnya masih panjang. “Kami paham bahwa kultur tidak bisa serta-merta berubah,” ujarnya. Transformasi kultur ini dimaksudkan untuk mewujudkan visi BNI menjadi lembaga keuangan yang terunggul dalam layanan dan kinerja secara berkelanjutan.

Proses transformasi ini dimulai dengan pengumpulan informasi seputar kultur BNI melalui proses FGD bersama Hi-Movers (sebutan untuk karyawan BNI) dan perwakilan leader, serta proses 1-on-1 interview dengan BOD. Dari situ disusunlah kerangka transformasi kultur BNI, yang memegang Prinsip 46 (terdiri dari 4 nilai dan 6 budaya kerja) sebagai beliefs, nilai-nilai AKHLAK (singkatan dari Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) sebagai core values, serta RACE (singkatan dari Risk culture, Agile, Collaborative, and Execution-oriented) sebagai tema transformasi BNI 2022-2025.

Baca Juga  MAK Berikan  Bantuan Biaya Pendidikan

Ada sejumlah jargon terkait tema transformasi tersebut. Sebagai contoh, pada Risk culture, jargonnya adalah “Jaga diri, ingatkan kawan, dan jaga BNI”.

Selain mengusung empat tema, BNI merumuskan Tindakan Simbolik Pimpinan yang harus dilakukan segenap pimpinan sebagai role model dan program budaya di tahun 2023. BNI juga telah membentuk RACE Network, yang terdiri dari empat jenis peran, yakni RACE Sponsor (BOD dan Komisaris), RACE Engine (Culture Team), RACE Captain (Pemimpin Divisi dan Pemimpin Wilayah), serta RACE Champion (para informal leader).

Seluruh rangkaian ini diharapkan dapat membentuk perilaku seluruh karyawan BNI yang mendukung performance culture, sehingga BNI mampu mencapai strategic objective sesuai dengan visi perusahaan,” kata Royke.

Selain menjalankan transformasi kultur, BNI juga melaksanakan transformasi korporat (bisnis). Transformasi korporat ini dijalankan bersamaan dengan transformasi kultur, dan mengacu pada framework Rumah Transformasi BNI, serta visi dan DNA lembaga keuangan ini.

Untuk menjalankan arahan strategi transformasi korporatnya, BNI mengembangkan inisiatif dengan bertumpu pada lima pilar bisnis, yaitu Corporate Banking, Institutional Banking, International Banking, Commercial & SME Banking, dan Consumer Banking. Pilar-pilar bisnis ini didukung oleh tujuh elemen enabler, yakni Digital, IT, Operation, Network & Services, Risk Management, Finance, dan Human Capital.

Struktur transformasi RACE melibatkan seluruh stakeholder dalam mendorong kemajuan dan realisasi dampak inisiatif RACE. Ada sejumlah arahan strategis dalam transformasi korporat ini, yakni perbaikan kualitas aset, pengembangan bisnis internasional, pengembangan digital dan ekosistemnya, optimalisasi bisnis UMKM, serta pengembangan human capital.

Mengenai journey-nya, transformasi korporat BNI ini telah dijalankan sejak April 2021. Hingga Oktober 2023 telah berjalan lima Wave (istilah untuk tahapannya). Setiap Wave berjalan selama enam bulan, dengan inisiatif dan deliverable yang telah ditentukan. Hingga lima Wave yang sudah dijalankan, total mencapai 45 inisiatif.

Ambil contoh pada Wave 5 (periode April-Oktober 2023), yang mempunyai enam inisiatif, yakni implementasi New Ways of Working (NWoW) di kantor pusat, implementasi NWoW di kantor cabang luar negeri, implementasi NWoW di organisasi wilayah, implementasi credit tools dan nasabah prima, penerapan Retail Loan Management System, serta penguatan Performance Management.

Untuk mendukung kedua jenis transformasi di atas, BNI juga menjalankan proses IT Transformation. Dalam hal ini visinya adalah mencapai tingkat IT Excellence untuk membangun kemitraan yang strategis dan terpercaya.

Baca Juga  Hunian Central Tiban Terjual 95%  dalam Waktu Singkat

Dalam IT Transformation ini, ada tiga pilar. Pertama, Business Innovation & Transformation, dengan program Customer-centric Innovation dan Risk-conscious Business Expansion. Kedua, IT Resilience, dengan program Modernisasi platform untuk sukses bisnis dan Membangun IT Hygiene yang kuat. Ketiga, IT Organization Transformation, dengan program Membangun IT Organization yang agile.

Dengan menjalankan berbagai inisiatif transformasi yang strategis dan sistematis tersebut, sejumlah kemajuan ataupun hasil positif sudah dirasakan BNI. Berdasarkan data yang disajikan BNI pada materi observasi CGPI, dari segi kinerja keuangan, hingga Agustus 2023 jumlah kredit yang disalurkan (loan) mencapai Rp 658,12 triliun, naik 8,8% dibandingkan Agustus 2022 yang sebesar Rp 604,85 triliun (year on year).

Adapun Dana Pihak Ketiga pada Agustus 2023 sebesar Rp 728,19 triliun, naik 7,3% YoY dibandingkan Agustus 2022 yang sebesar Rp 678,77 triliun. Di sisi lain, NPL (Gross) turun dari 3,2% pada Agustus 2022 menjadi hanya 2,3% pada Agustus 2023. Peningkatan kinerja juga terlihat pada laba bersih (net profit) yang mencapai Rp 13,71 triliun pada Agustus 2023, atau naik 14,9% dibandingkan laba bersih Agustus 2022 yang sebesar Rp 11,93 triliun.

Dari sisi nasabahnya, di segmen corporate banking BNI kini memiliki 413.479 nasabah business banking, yang terdiri dari 476 corporate debtors, 2.165 medium loan debtors, dan 410.838 small loan debtors. Di segmen retail banking BNI memiliki 67,7 juta rekening dana pihak ketiga (funding accounts), 23,6 juta rekening tabungan reguler, 2 juta pemegang kartu kredit, dan 233.474 nasabah KPR.

Sementara itu, praktik GCG dan ESG (Environmental, Social, and Governance) yang dijalankan BNI telah mendapat pengakuan dari sejumlah lembaga. Dalam praktik GCG, bank BUMN ini telah mendapatkan predikat sebagai Most Trusted Company dalam ajang CGPI Award 2022 dari IICG dan SWA. Dari ajang the 14th IICD Corporate Governance Award 2022, BNI mendapatkan penghargaan sebagai The Best State-Owned Enterprise Leadership in Corporate Governance.

Adapun dalam praktik ESG, BNI telah mendapatkan rating A dari MSCI ESG Ratings (last report update: 17 Agustus 2023). BNI juga masuk dalam IDX ESG Leader Index (periode 21 September 2022 – 14 Maret 2023). (*)

Joko Sugiarsono & Vina Anggita

www.swa.co.id

 

Kutipan:

Dalam rangka mempersiapkan dan mengembangkan bisnis di masa mendatang, kami melakukan transformasi culture dan transformasi bisnis.” Royke Tumilaar, Dirut BNI



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *