Investor Optimistis 2024 Membawa Angin Segar bagi Startup

Industri teknologi dihantam badai krisis yang bertubi-tubi selama dua tahun terakhir. Ketidakpastian ekonomi global telah membuat semua stakeholder untuk bersikap lebih bijaksana. Valuasi perusahaan startup yang melemah, kelesuan ekonomi dunia, tekanan inflasi tanpa henti, dan potensi resesi global membayangi sektor ini.

Namun, investor mulai optimistis menatap tahun 2024 sekarang. Managing Partner East Ventures Roderick Purwana mengungkapkan beberapa tahun terakhir, situasi terasa menantang, seolah menatap langit mendung tanpa sinar Matahari. Namun, tahun ini ia optimistis pada 2024 cerah meski langit berawan. 

“Ada beberapa indikasi yang membuat kami optimis. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) berpotensi menurunkan suku bunga acuan pada tahun 2024, memberi harapan pertumbuhan ekonomi AS lebih tinggi. Hal ini bisa menjadi ‘angin segar’ bagi industri teknologi. Ibarat melihat secercah langit biru di antara awan tebal, sesuatu yang menjanjikan,” katanya, Rabu (03/01/2024).

Meski begitu, ia menambahkan, seperti pembalap berpengalaman, pihaknya tetap waspada melihat rintangan di depan. Ketegangan geopolitik di beberapa wilayah masih berpotensi menimbulkan gejolak pasar yang besar. 

Selain itu, momen pemilihan umum di Amerika dan Indonesia yang semakin dekat mengakibatkan jalan ke depan masih butuh kewaspadaan dan fokus. Sebagai pemain handal, perusahaan tetap fokus dan mawas diri di tengah situasi saat ini.

“Memasuki 2024 pasti banyak ketidakpastian. Ketegangan geopolitik di beberapa negara dan ketidakstabilan ekonomi global menyebabkan volatilitas yang besar. Namun, kami melihat tanda-tanda positif. Kami tetap waspada, memantau dengan cermat, dan fokus pada tujuan kami terlepas dari fluktuasi eksternal,” ujar Roderick.

Roderick mengaku strateginya tetap sama yakni mengidentifikasi dan berinvestasi pada founder (startup) dan peluang terbaik, terlepas dari kondisi baik atau buruk. Selain itu, meski dirinya melihat banyak prospek investasi di berbagai sektor, termasuk iklim (seperti transisi energi dan proyek terkait iklim), kesehatan, dan rantai pasokan, East Ventures terus berinvestasi secara agnostik. 

Baca Juga  Daihatsu Dress-Up e-Challenge 2023, Kontes Kreatif Modifikator Otomotif

Willson Cuaca selaku Founding Partner East Ventures mengatakan perusahaannya telah melewati berbagai siklus pendanaan dan krisis global. Dia mengaku selalu mengingatkan tim untuk bersaing dengan pencapaian sebelumnya dan tetap mengobservasi peluang-peluang yang belum terlihat jelas. 

“Tujuan kami adalah selalu berada di depan gelombang sebelum menjadi tren besar. Dengan penetrasi internet Indonesia yang hampir mencapai 80%, kami akan melihat berakhirnya era transisi digital konsumen dan munculnya era baru bonus demografi (dividen demografi) yang akan datang,” ucapnya.

Dalam 10 tahun ke depan, lanjut Willson, Indonesia akan memasuki era dividen demografi dini dan akan mencapai puncaknya sekitar 20 tahun dari sekarang. Pada saat itu, hampir 206 juta orang akan berada dalam usia produktif dan secara teoritis mampu menghidupi tanggungan mereka. 

Mayoritas angkatan kerja dalam 10 hingga 20 tahun ke depan adalah generasi digital yang dipimpin oleh Generasi Z dan didukung oleh generasi milenial yang matang. Sebagian besar penduduk produktif memasuki usia dewasa. Kondisi ini memberikan peluang sekali seumur hidup untuk mengubah Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi dan mendorong munculnya peluang bisnis baru. 

“Apakah generasi mendatang ini dapat mencapai visi Indonesia Emas 2045 atau menjadi beban demografi? Itu tergantung pada kesiapan kita untuk bersiap dan bertindak sekarang,” ungkap Willson menutup keterangannya.

Diketahui, pada tahun 2023, perusahaan modal ventura East Ventures berhasil menyelesaikan 63 deal, menambah 29 perusahaan portofolio baru dan menginvestasikan hampir US$80 juta ke perusahaan portofolio tahap awal (seed) dan lanjutan (growth). Investasi tersebut tersebar di berbagai sektor, termasuk perusahaan pendukung e-commerce, biotech, Software as a Service (SaaS), kendaraan listrik, teknologi iklim dan banyak lagi.

Baca Juga  Tiki, Memutakhirkan Digitalisasi untuk Tingkatkan Engagement Konsumen

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *