Master Bagasi, Mengobati Rasa Rindu Diaspora akan Produk Indonesia

Amir Hamzah, Founder & CEO Master Bagasi.

Menghadirkan berbagai produk khas Indonesia di setiap rumah diaspora Indonesia yang berjumlah lebih dari 12 juta orang di berbagai negara merupakan visi Master Bagasi. Perusahaan di bawah bendera PT Bumi Hijau Khatulistiwa ini dirintis sejak 2020 dan telah berhasil mewujudkan kebutuhan diaspora Indonesia di berbagai negara. Mereka bisa merasakan kembali citarasa khas brand dan produk asli Indonesia di negara di mana mereka tinggal.

Produk Indonesia apa saja itu? “Makanan dan produk-produk yang biasa ditemui. Mereka kangen akan makanan dan produk-produk itu. Makanya, mereka menggunakan jasa Master Bagasi untuk mengirimkan barang yang mereka mau,” kata Amir Hamzah, Founder & CEO Master Bagasi.

Adapun jenisnya, makanan dan cemilan seperti kategori mie dan bumbu instan, kategori kerupuk, serta kategori kopi dan teh. Ada juga kategori rempah, bumbu dapur, kerajinan tangan, produk kecantikan, tekstil, mainan tradisional, hingga buku nasional. Yang paling banyak dikirim, makanan dan kerajinan tangan.

Awalnya, ada 4-5 negara yang dituju, yakni Korea Selatan, Jepang, Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Arab Saudi. Namun, saat ini bisa mengirim produk Indonesia ke 84 negara.

“Inggris dan AS hingga saat ini yang terbesar,” ujar Amir. Di tahun pertama Master Bagasi beroperasi, bisa mengirim sekitar 23 ton produk ke dua negara itu, dan ada sekitar lebih dari 3 ribu pengiriman.

Menurut Amir, ide mendirikan Master Bagasi muncul di 2018, ketika istrinya sedang kuliah di Korea. Otomatis, saat itu ia pun harus bolak-balik ke sana. Akhirnya, ia melihat peluang, ada banyak orang Indonesia di luar sana yang disebut diaspora. Mereka membutuhkan, pertama, barang dari Indonesia. Kedua, alur transfer uang dari Indonesia ke sana dan sebaliknya. Ketiga, terkait pergerakan orang.

“Dari ketiga ini, saya melihat mana yang paling mungkin untuk bisa dikerjakan. Akhirnya, saya memutuskan mulai dari barang di akhir 2019. Lalu, terbentur Covid-19 di 2020 dan berlanjut hingga 2021. Jadi, di tahun-tahun tersebut mulai tes pasar di Korea dan Turki,” tuturnya.

Baca Juga  Inovasi Terkini Propan Raya  dalam Pameran Konstruksi Indonesia 2023

Amir, yang seorang lawyer, akhirnya memutuskan untuk membuat perusahaan. Ia pun sudah memikirkan akan membuat aplikasi, website yang mengetalasekan berbagai produk Indonesia untuk diaspora di berbagai negara, agar bisa mengakses dengan mudah, cepat, dan murah.

“Dari sini kami membuat formula dengan mengintegrasikan antara e-commerce, on demand services, fintech, dan international logistics. Empat core business yang saling terhubung tersebut membawa Master Bagasi sebagai pembawa kebahagiaan untuk stakeholders melalui ekosistem bisnis digital bagi ribuan produk dari brand asli Indonesia dan juga untuk diaspora Indonesia,” katanya.

Amir mendirikan Master Bagasi bersama tujuh orang lainnya dengan latabelakang yang berbeda-beda. “Untuk dana awal/modal menggunakan dana dari kantong sendiri, Hingga saat ini kami tidak berutang atau memperoleh pinjaman dari pihak lain,” ungkapnya.

Dalam menjalankan bisnis, ia merekrut karyawan dengan kualifikasi tertentu, terutama di bidang pemasaran yang bisa memperkenalkan perusahaan ke khayalak. Saat ini, Master Bagasi memiliki 30 karyawan dengan berbagai latar belakang dan pengalaman yang ahli di bidangnya.

Terkait strategi pemasaran, menurut Amir, ada tiga hal yang ditonjolkan, yaitu cepat, mudah, dan murah. Untuk membuat mudah, pihaknya menghadirkan fitur Jelajah Nusantara. Dengan fitur ini, diaspora dari Aceh, misalnya, bisa dengan mudah melihat produk-produk Aceh.

Karena orang Indonesia suka patungan, dihadirkan Keranjang Bersama. Ini dilakukan karena jika mengirim produk ke luar negeri, mahalnya bukan di produk, melainkan ongkos kirim,. Nah, dengan lebih banyak produk, ongkos kirim lebih murah.

Misalnya, mengirim barang ke Inggris, ongkosnya Rp 600 ribu/kg. Sementara jika beratnya 20 kg, harganya hanya sekitar Rp 220 ribu/kg. Jika seorang diaspora butuh 3-4 kg barang yang dipesan dari Indonesia, dia bisa mengirim barang bareng teman-temannya. “Sistem pembayarannya lengkap. Kami juga berencana memiliki fitur remitensi dari luar ke dalam,” ungkap Amir.

Keunggulan Master Bagasi lainnya, menyediakan layanan on demand service. Misalnya, untuk barang yang tidak ada di website, seorang diaspora bisa meminta titip ke Master Bagasi untuk dibelikan.

Baca Juga  Eudora Aesthetic Clinic Ajak Pelanggan Tampil Glowing Jelang Imlek

Cara kerjanya sama seperti e-commerce. Perbedaannya, Master Bagasi langsung mengirimkan barang ke diaspora di mancanegara, sampai di depan rumah mereka. Hal ini membuat diaspora terbantu, dan UMKM pun mempunyai pasar yang lebih luas lagi. Lama pengiriman, contohnya ke Inggris, 2-3 hari; dikirim Senin, misalnya, sampai Rabu.

Pesaingnya adalah perusahaan logistik internasional, tapi biaya relatif mahal untuk individu. Selain itu, ada juga jastip (jasa titip) tapi hanya ke satu tujuan negara. Ada lagi pengiriman melalui jasa maskapai. “Kami hadir di tengah-tengah mereka, di mana yang tadinya mahal, kami buat murah, dan yang tadinya susah, dibuat mudah,” Amir menandaskan.

Agar pengiriman ke luar negeri bisa murah, perusahaannya memiliki kontrak eksklusif dengan ekspedisi internasional. Dengan demikian, harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan dengan mereka datang sendiri ke ekspedisi tersebut. “Saat ini, kami sudah bekerjasama dengan beberapa perusahaan logistik internasional,” ujar Amir tanpa menyebut nama-nama perusahaan tersebut.

Tantangan yang dihadapi dalam membangun bisnis ini, di Indonesia, e-commerce berada di satu payung hukum yang jelas, tetapi Master Bagasi harus berhadapan dengan 234 negara dengan peraturan yang berbeda-beda. “Sehingga, kami harus mempelajari sedikit demi sedikit sambil membuat konsep yang ideal untuk bisa mengirim ke sana,” ungkapnya.

Tahun depan, Master Bagasi akan meluncurkan aplikasi, dan saat ini pihaknya tengah menyiapkan fondasinya terlebih dahulu. Targetnya, ketika aplikasi diluncurkan, sudah bisa melakukan pengiriman ke 90 negara. Setelah fondasinya kuat, pihaknya bersepakat menerima investasi. Master Bagasi pun akan memperkuat perusahaan dengan mengajak para mitra bergabung.

“Ke depan kami ingin langsung bekerjasama dengan brand-brand dan UMKM-UMKM untuk placement barangnya di aplikasi kami. Selain itu, dalam lima tahun ke depan, kami juga menargetkan untuk IPO,” kata Amir optimistis. (*)

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

www.swa.co.id



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *