Omzet Toko Kelontong SRC pada 2022 Diklaim Capai Rp236 Triliun

Uncategorized37 Dilihat

PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS) mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, khususnya pelaku usaha toko kelontong yang tergabung dalam Sampoerna Retail Community (SRC). Omzet toko SRC secara keseluruhan tahun lalu diperkirakan mencapai Rp236 triliun, atau setara dengan 11,36% dari total PDB retail nasional tahun 2022 sebesar Rp2.077,43 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam mengembangkan UMKM. Menurutnya, UMKM merupakan pilar penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia. 

“Oleh karena itu, kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta adalah kunci untuk optimalisasi. Pemerintah mengapresiasi langkah SRC yang sejalan dengan upaya pemerintah untuk pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Airlangga.

Dalam penjelasannya Airlangga mengatakan bahwa berdasarkan data Kementerian Koperasi sebanyak 65,5 juta UMKM berkontribusi terhadap 99% unit usaha di Indonesia. Selain itu, UMKM memberikan kontribusi PDB sebesar 61% atau Rp9.580 triliun serta menciptakan lapangan kerja bagi 97% dari total tenaga kerja nasional.

“Toko kelontong tradisional adalah bisnis UMKM yang menjanjikan dan terus dapat dikembangkan menjadi toko yang lebih modern, terdigitalisasi, dan berdampak luas. Pemerintah akan memberikan dukungan untuk membantu UMKM dan mendorong berbagai program UMKM seperti pembiayaan, digitalisasi UMKM, dan kemitraan UMKM dengan usaha besar, serta memperluas akses pasar,” ujarnya.

Direktur PT HM Sampoerna Tbk. Ivan Cahyadi mengatakan SRC merupakan bagian dari program Sampoerna untuk memberdayakan UMKM Indonesia khususnya toko kelontong, dengan tujuan meningkatkan daya saing dan agar UMKM naik kelas. Hingga Kuartal III 2023, jumlah toko SRC di seluruh Indonesia telah mencapai lebih dari 243.000 toko yang tergabung dalam 8.200 paguyuban, serta aktif berkolaborasi dengan 6.300 Mitra SRC yang merupakan toko grosir.

Baca Juga  Asuransi Sinar Mas Pacu UMKM Naik Kelas di Ajang Fashion Show Danau Toba

“Inovasi dan kolaborasi serta kerja sama strategis menjadi hal penting untuk memajukan ekonomi kerakyatan. Untuk itu, SRC terus mendorong transformasi dan digitalisasi UMKM secara berkelanjutan,” ujar Ivan. 

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Kemenko Perekonomian Rudy Salahuddin mengatakan, pemerintah terus berupaya meningkatkan daya saing UMKM melalui berbagai inisiatif dan kebijakan. Namun, pemerintah juga membutuhkan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan untuk membina UMKM Indonesia sebagai tulang punggung ekonomi nasional, terutama melalui inovasi dan digitalisasi, agar terwujud UMKM yang berkelanjutan.

“Pemerintah mendukung penuh pengembangan Toko SRC sebagai salah satu contoh program pemberdayaan UMKM yang memiliki potensi dan kontribusi besar terhadap perekonomian dan masyarakat. SRCIS diharapkan terus menjalankan komitmennya dalam mengembangkan Toko SRC melalui berbagai inovasi dan kolaborasi,” kata Rudy.

Direktur PT SRC Indonesia Sembilan Rima Tanago mengatakan, SRCIS telah menggelar berbagai program untuk membina UMKM, mulai dari inovasi, digitalisasi, dan kolaborasi. Berbagai program yang SRCIS lakukan dalam membina UMKM selama ini mampu menciptakan dampak positif.

Riset yang dilakukan Tim Riset Kompas Gramedia Media menunjukkan para pemilik toko SRC merasakan manfaat setelah bergabung dengan SRC, khususnya dalam peningkatan daya saing. Para pemilik Toko SRC menyebut rata-rata omzet mereka setelah bergabung menjadi toko SRC adalah Rp85.000.000/bulan atau mengalami kenaikan rata-rata hingga 42%. Di samping itu, 77% toko kelontong anggota SRC memiliki usaha tambahan sejak bergabung dengan SRC.    

Dalam aspek digitalisasi, sebanyak 90% Toko SRC kini telah mengadopsi digitalisasi melalui ekosistem digital AYO by SRC dengan berbagai fitur yang terus dikembangkan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 10% toko kelontong non-SRC yang telah terekspos digitalisasi.

Baca Juga  Halal Expo Indonesia Fasilitasi Pelaku Usaha Ekspansi ke Pasar Global

Kemudian omzet produk UMKM yang dipasarkan melalui Pojok Lokal (rak khusus produk UMKM sekitar toko SRC) di toko SRC 40% lebih tinggi dibandingkan dengan omzet produk UMKM yang tersedia di toko kelontong non-SRC. Bahkan, secara nasional total transaksi di Pojok Lokal mencapai Rp5,65 triliun. Selain itu, SRC berperan dalam membentuk lapangan kerja di mana 51% Toko SRC berhasil membuka lapangan pekerjaan baru melalui penambahan karyawan.

“SRC berfokus dalam transformasi toko kelontong menjadi adaptif dan inovatif terhadap kebutuhan masyarakat masa kini. Sinergi baik antara ekosistem SRC dan pemangku kepentingan, maupun kolaborasi dengan mitra strategis juga terus kami optimalkan agar dampak dan kontribusi UMKM terus berkelanjutan untuk Indonesia jadi lebih baik,” ujar Rima.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *